TEROPONGPUBLIK.CO.ID - Penguatan data dan informasi perkebunan menjadi salah satu langkah penting dalam mendukung tata kelola kelapa sawit yang lebih akurat, terarah, dan berkelanjutan. Hal tersebut menjadi fokus dalam Pelatihan Teknik Pemetaan Lokasi Perkebunan Kelapa Sawit yang resmi dibuka pada (24/8/2026) di Hotel Grage, Bengkulu.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDM Perkebunan) yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan dikoordinasikan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) serta dilaksanakan oleh PT Daya Guna Lestari (DGL Learning Institute). Pelatihan diikuti oleh 28 peserta dari Kabupaten Mukomuko yang merupakan hasil rekomendasi teknis tahun 2025.
Dalam sambutannya, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bengkulu, Hj. Sri Herlin Despita, S.Pt., MP, menekankan bahwa pemetaan menjadi bagian penting dalam membangun basis data perkebunan yang akurat. Menurutnya, kondisi perkebunan perlu diketahui secara nyata, termasuk identitas dan lokasi kebun, sehingga setiap hamparan kebun petani dapat terdata dan terpetakan dengan baik.
“Dengan pemetaan yang baik, kita akan mengetahui kondisi perkebunan secara riil, by name by address dan sesuai dengan regulasi tata ruang yang berlaku. Diharapkan nantinya setiap hamparan kebun petani terdata dan terpetakan secara keseluruhan,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa pelatihan ini akan memperkenalkan pemanfaatan berbagai teknologi pemetaan, seperti GPS, drone, citra satelit, dan Sistem Informasi Geografis (GIS). Menurutnya, data spasial yang akurat dapat menjadi dasar untuk mendukung berbagai kebutuhan, mulai dari perizinan, pemantauan, pengelolaan hasil, hingga penanggulangan konflik lahan.
Lebih lanjut, ia menyebut pemetaan memiliki kaitan erat dengan percepatan pendataan kebun rakyat dan penerbitan Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB) bagi kebun rakyat dengan luasan kurang dari 25 hektare. Pemetaan yang baik juga menjadi bagian dari penerapan prinsip ketertelusuran (traceability) dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit.
Sementara itu, Wakil Direktur DGL Learning Institute, M. Danang MRQ, berharap pelatihan dapat memberikan pengalaman yang tidak hanya berhenti pada pemahaman teori, tetapi juga kemampuan praktik yang dapat digunakan peserta setelah kembali ke daerah masing-masing.
“Semoga dengan adanya pelatihan ini, peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai teknik pemetaan, tetapi juga mampu memahami dan mempraktikkannya secara langsung sesuai dengan kondisi perkebunan yang ada di lapangan,” ujarnya.
Menurut Danang, salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pelatihan adalah peserta dapat menghasilkan peta dari proses pembelajaran yang mereka ikuti. Karena itu, peserta nantinya tidak hanya mendapatkan materi mengenai pemetaan, tetapi juga melakukan praktik secara langsung selama kegiatan berlangsung.
“Nantinya pada akhir sesi, peserta akan membawa pulang peta yang sudah dibuat selama pelatihan. Harapannya, hasil tersebut dapat menjadi bekal dan dapat dimanfaatkan untuk mendukung pendataan serta pengelolaan kebun di daerah masing-masing,” tambahnya.
Dalam kegiatan tersebut, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko, Hari Mustaman, S.P., M.P., turut memberikan materi kepada peserta dengan mengangkat kondisi, potensi, dan tantangan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Mukomuko.
Materi yang disampaikan menunjukkan besarnya potensi perkebunan rakyat di Mukomuko. Berdasarkan data yang dipaparkan, luas kebun kelapa sawit swadaya masyarakat mencapai 108.987 hektare, sementara terdapat 15 unit perusahaan pengolahan dengan kapasitas pengolahan berkisar 20–60 ton per jam.
Dalam pemaparannya, Hari Mustaman juga menyoroti adanya kesenjangan rendemen CPO antara sawit rakyat dan kebun perusahaan. Materi menunjukkan terdapat selisih rendemen sekitar 6–7 persen antara kebun rakyat dan kebun perusahaan inti di Mukomuko.
Berbagai faktor turut menjadi perhatian, mulai dari tingkat kematangan buah saat panen, brondolan yang tidak dikutip, keterlambatan pengiriman TBS ke pabrik, penanganan TBS yang kurang baik, hingga penggunaan bibit yang tidak unggul atau tidak bersertifikat. Penerapan Good Agricultural Practices (GAP) yang belum optimal juga menjadi salah satu faktor yang disebut dalam materi.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan kualitas perkebunan rakyat membutuhkan dukungan data yang kuat. Dalam materi yang disampaikan, pemetaan spasial memiliki peran dalam mendukung penerbitan e-STDB, verifikasi program PSR, serta implementasi ISPO pekebun. Data spasial dapat membantu mengidentifikasi batas bidang tanah dan kebun, memverifikasi lokasi, sekaligus mendukung ketertelusuran dalam rantai pasok.
Dengan demikian, pelatihan ini tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta dalam menggunakan perangkat pemetaan, tetapi juga memahami bagaimana data yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan perkebunan di daerah.
Peserta akan mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan proses pemetaan selama pelatihan hingga menghasilkan peta yang dapat dibawa pulang sebagai hasil pembelajaran. Hal tersebut diharapkan memberikan pengalaman nyata sekaligus menjadi bekal bagi peserta dalam melakukan pendataan kebun di wilayah masing-masing.
Melalui Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit ini, peningkatan kompetensi pekebun diharapkan dapat berjalan seiring dengan penguatan kualitas data perkebunan. Kolaborasi BPDP, Ditjenbun, pemerintah daerah, dan DGL Learning Institute menjadi bagian dari upaya mendukung pekebun agar semakin mampu memanfaatkan teknologi dan data dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit.
Dengan semakin banyaknya pekebun yang memiliki kemampuan pemetaan, diharapkan proses pendataan kebun rakyat dapat dilakukan secara lebih akurat, sistematis, dan mendukung terwujudnya tata kelola perkebunan kelapa sawit yang lebih tertib dan berkelanjutan.
Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) adalah Badan Layanan Umum (BLU) di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Keuangan Republik Indonesia. BPDP dibentuk untuk menghimpun, mengelola, dan menyalurkan dana perkebunan guna mendukung keberlanjutan, produktivitas, dan daya saing komoditas perkebunan nasional. Program BPDP dapat dilihat secara langsung pada www.bpdp.or.id.
Tentang DGL Learning Institute
DGL Learning Institute (PT Daya Guna Lestari) adalah lembaga pelatihan, asesmen, dan sertifikasi yang berfokus pada sektor kelapa sawit, dan telah menjadi mitra pelatihan BPDP selama empat tahun berturut-turut.
Kontak Media
Email: pelatihan@dayagunalestari.com | Telp: 0821-2086-7566 | Website: dayagunalestari.com(**)