TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<>>> Pemerintah Kota Bengkulu menuntaskan pembangunan jembatan penghubung di kawasan perbatasan Kelurahan Pematang Gubernur dengan Kelurahan Bentiring dan Bentiring Permai. Infrastruktur tersebut telah mencapai progres fisik 100 persen dan dalam waktu dekat dijadwalkan diresmikan oleh Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi bersama Wakil Wali Kota Ronny PL Tobing.
Pembangunan jembatan ini menjadi salah satu langkah pemerintah daerah dalam menjawab persoalan banjir yang selama ini dikeluhkan masyarakat. Selain mendukung aksesibilitas antarwilayah, infrastruktur tersebut diharapkan mampu memperbaiki aliran air yang sebelumnya kerap terhambat ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Bengkulu, Noprisman, memastikan seluruh pekerjaan konstruksi telah selesai dilaksanakan. Dengan rampungnya pembangunan, jembatan tersebut tinggal menunggu agenda peresmian sebelum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.
“Jembatan sudah rampung dan dalam waktu dekat akan diresmikan oleh Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi dan Wakil Wali Kota Ronny PL Tobing,” ujar Noprisman.
Pembangunan jembatan tersebut berangkat dari persoalan lingkungan yang berulang di kawasan perbatasan kedua kelurahan. Sebelum proyek dikerjakan, wilayah itu kerap mengalami banjir karena saluran gorong-gorong lama dinilai tidak lagi memadai untuk menampung debit air.
Kondisi tersebut mendorong perlunya pembenahan infrastruktur, terutama pada bagian yang berpengaruh terhadap kelancaran aliran air. Pemerintah kota kemudian merealisasikan pembangunan jembatan baru sebagai bagian dari upaya mengatasi persoalan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Menurut Noprisman, kebutuhan penanganan banjir di sejumlah titik sebenarnya telah masuk dalam perhatian Dinas PUPR sejak 2023. Namun, rencana pengerjaan ketika itu belum dapat direalisasikan karena keterbatasan anggaran.
Perkembangan selanjutnya terjadi setelah adanya laporan mengenai titik-titik banjir yang dihimpun melalui jajaran kepolisian, termasuk Bhabinkamtibmas. Laporan tersebut menjadi salah satu masukan bagi pemerintah dalam menindaklanjuti persoalan yang terjadi di lingkungan warga.
“Pak Kapolresta beberapa waktu lalu menerima laporan dari Bhabinkamtibmas terkait beberapa titik yang mengalami banjir. Sebenarnya Dinas PUPR sudah mengidentifikasi lokasi-lokasi tersebut sejak tahun 2023, namun saat itu masih terkendala anggaran. Alhamdulillah tahun ini bisa direalisasikan,” jelasnya.
Rampungnya pembangunan diharapkan menjadi langkah awal untuk meningkatkan kenyamanan masyarakat, khususnya ketika musim hujan tiba. Meski demikian, efektivitas penanganan banjir tetap perlu didukung pemeliharaan saluran air dan kepedulian bersama dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Tidak hanya berorientasi pada fungsi infrastruktur, jembatan baru tersebut juga diusulkan menggunakan nama yang memiliki keterkaitan dengan sejarah lokal, yakni Jembatan Air Pecah Pinggan.
Usulan nama itu berangkat dari cerita turun-temurun masyarakat mengenai keberadaan dusun tua di kawasan Talang Kering. Riwayat tersebut menjadi bagian dari memori kolektif warga tentang perubahan permukiman dan perjalanan perkembangan wilayah yang kini semakin ramai.
Berdasarkan kisah para tetua adat, Talang Kering pada masa lalu merupakan kawasan permukiman yang kemudian perlahan ditinggalkan ketika pemerintah kolonial Belanda membangun jalur penghubung Bengkulu menuju Curup.
Sebagian masyarakat kala itu berpindah ke wilayah Tanjung Agung dan Tanjung Jaya. Perpindahan tersebut berkaitan dengan kebutuhan untuk memperoleh akses yang lebih dekat ke jalan raya dan aliran sungai, yang menjadi bagian penting dalam aktivitas kehidupan masyarakat pada masa itu.
Setelah ditinggalkan, kawasan Talang Kering berangsur kembali ditumbuhi hutan. Seiring bertambahnya jumlah penduduk, warga dari wilayah sekitar kemudian kembali memasuki kawasan tersebut untuk membuka lahan dan menjalankan aktivitas perkebunan.
Dari aktivitas itu muncul sebutan “Padang Pecah Pinggan”. Menurut cerita yang diwariskan masyarakat, istilah tersebut bermula dari percakapan antarpenggarap lahan yang menjelaskan lokasi kebun mereka dengan merujuk pada banyaknya pecahan piring kuno yang ditemukan di kawasan tersebut.
Kata “padang” digunakan untuk menggambarkan hamparan lahan yang sebelumnya berupa hutan, sedangkan “pecah pinggan” merujuk pada temuan pecahan peralatan makan yang diyakini berkaitan dengan bekas permukiman lama.
Kisah tersebut menjadi alasan mengapa nama Air Pecah Pinggan dinilai memiliki nilai historis dan layak dipertimbangkan sebagai identitas jembatan. Penetapan nama tetap menjadi bagian dari proses yang perlu dipastikan oleh pihak berwenang.
Perkembangan kawasan tersebut juga dikaitkan dengan pembangunan jalan raya pada masa Gubernur Soeprapto, yang membuka akses melintasi wilayah Rawa Makmur hingga Bentiring Permai.
Terbukanya jalur transportasi turut mendorong perkembangan kawasan dan aktivitas masyarakat. Wilayah yang dahulu memiliki kisah permukiman lama kini tumbuh menjadi bagian dari kawasan perkotaan yang membutuhkan dukungan infrastruktur memadai.
Melalui pembangunan jembatan ini, Pemerintah Kota Bengkulu diharapkan tidak hanya memperkuat konektivitas antarwilayah, tetapi juga memberikan perhatian terhadap persoalan banjir dan pelestarian cerita sejarah setempat.
Jika usulan nama Air Pecah Pinggan terealisasi, jembatan tersebut berpotensi menjadi penanda yang menghubungkan kebutuhan pembangunan masa kini dengan jejak kehidupan masyarakat pada masa lalu.
Rampungnya proyek ini menjadi kabar positif bagi warga Pematang Gubernur, Bentiring, dan Bentiring Permai. Masyarakat kini menantikan peresmian serta manfaat nyata jembatan tersebut, terutama dalam mendukung mobilitas dan mengurangi persoalan genangan air yang selama ini mengganggu aktivitas sehari-hari.
Pewarta : Amg
Editing : Adi Saputra