Skip to main content

Pemkot Bengkulu Hidupkan Kembali Kbek Palak, ASN Wajib Kenakan Setiap Kamis

Sejumlah ASN laki-laki di lingkungan Pemerintah Kota Bengkulu mengenakan Kbek Palak yang dipadukan dengan batik besurek saat bekerja, Kamis (13/8/2026). Penggunaan atribut tradisional tersebut menjadi bagian dari upaya melestarikan identitas budaya Bengkulu.

TEROPONGPUBLIK.CO.ID  <<<<>>>  Upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu mempertahankan identitas budaya daerah terus dilakukan melalui langkah-langkah sederhana yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya dengan menghidupkan kembali penggunaan Kbek Palak, penutup kepala tradisional khas Bengkulu, di lingkungan pemerintahan.

Kebijakan tersebut diwujudkan melalui Surat Edaran (SE) Nomor 12 Tahun 2025 yang diterbitkan Pemerintah Kota Bengkulu. Dalam aturan tersebut, ASN laki-laki di lingkungan Pemkot Bengkulu diimbau sekaligus diwajibkan mengenakan Kbek Palak setiap hari Kamis sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kembali atribut budaya daerah.

Kebijakan ini bukan sekadar mengatur pakaian kerja. Lebih jauh, penggunaan Kbek Palak diarahkan menjadi bagian dari gerakan pelestarian budaya Bengkulu yang dimulai dari lingkungan pemerintahan.

Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi menilai pemerintah memiliki posisi strategis dalam memberikan contoh kepada masyarakat. Karena itu, para aparatur diminta tidak hanya menjalankan tugas pelayanan publik, tetapi juga ikut menjaga warisan budaya yang menjadi bagian dari identitas daerah.

Menurut Dedy, Kbek Palak memiliki nilai sejarah dan simbolik yang tidak seharusnya hilang akibat perkembangan zaman. Dahulu, penutup kepala tersebut dikenal digunakan oleh kalangan bangsawan serta tokoh masyarakat Bengkulu dalam berbagai kegiatan dan acara tertentu.

Namun, perubahan gaya hidup dan masuknya berbagai budaya modern membuat penggunaan atribut tradisional tersebut semakin jarang ditemukan dalam keseharian masyarakat.

Kondisi itulah yang mendorong Pemkot Bengkulu mengambil langkah untuk memperkenalkannya kembali melalui jajaran aparatur sipil negara.

Kbek Palak bukan sekadar aksesori, tetapi bagian dari identitas dan kehormatan budaya masyarakat Bengkulu. Kita harus bangga menggunakannya dan menjadi contoh dalam menjaga warisan leluhur agar tidak hilang ditelan zaman,” kata Dedy.

Ia juga menyampaikan bahwa dirinya berusaha konsisten mengenakan Kbek Palak yang dipadukan dengan kain batik besurek dalam berbagai kesempatan, terutama setiap Kamis.

Bagi Dedy, kebiasaan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan rasa memiliki terhadap budaya lokal. Penggunaan pakaian dan atribut tradisional secara rutin juga dinilai menjadi cara sederhana untuk mengenalkan adat istiadat Bengkulu kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Saya sengaja selalu memakai Kbek Palak dan batik besurek di berbagai kesempatan. Ini salah satu cara untuk melestarikan budaya Bengkulu sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap adat dan tradisi khas Kota Bengkulu,” ujarnya.

Pantauan pada Kamis, 13 Agustus 2026, menunjukkan kebijakan tersebut mendapat respons positif dari jajaran pegawai Pemkot Bengkulu. Sejumlah perangkat daerah terlihat mengenakan Kbek Palak dengan paduan batik besurek sehingga menciptakan suasana kerja yang sekaligus menonjolkan nuansa budaya lokal.

Tidak hanya memperkuat identitas aparatur, penggunaan Kbek Palak juga berpotensi memberikan dampak terhadap sektor ekonomi kreatif. Meningkatnya kebutuhan terhadap atribut tradisional dapat membuka ruang bagi pengrajin lokal untuk terus memproduksi dan mengembangkan desain yang sesuai dengan karakter budaya Bengkulu.

Dengan demikian, pelestarian budaya tidak berhenti pada seremoni atau kegiatan adat, tetapi dapat berkembang menjadi aktivitas ekonomi yang melibatkan pelaku UMKM dan perajin daerah.

Pemkot Bengkulu berharap kebiasaan mengenakan Kbek Palak di lingkungan pemerintahan dapat menjadi contoh yang kemudian diikuti masyarakat luas. Semakin sering atribut tersebut terlihat di ruang publik, semakin besar pula peluang generasi muda mengenal bentuk, fungsi, dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Langkah tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa modernisasi tidak harus menghapus identitas lokal. Justru, kemajuan daerah dapat berjalan beriringan dengan upaya merawat warisan leluhur.

Pewarta : Amg

Editing : Adi Saputra